Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia

Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia

Senin, 27 Oktober 2014

Antara 5 Tahun IMFI dan 86 Tahun Sumpah Pemuda Indonesia

 Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
· Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
· Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Untaian kalimat sakral di atas adalah teks sumpah pemuda yang dibacakan di Jakarta pada 28 Oktober 1928. DELAPAN PULUH ENAM TAHUN yang lalu untaian kalimat sakral itu pertama kali diucapkan. Apakah itu hanya untaian kalimat tanpa makna ? TENTU TIDAK.. kalimat kalimat itu bisa menjadi tamparan yang bisa mempersatukan anak bangsa dari berbagai suku dan agama dimana sekarang ini kesatuan itu sudah mulai tergoyahkan.
Sumpah pemuda ? mahasiswa ? ada apa dengan dua kata itu ? dua kata itu ibarat satu mata rantai yang tidak terpisahkan dan seperti simbiosis mutualisme yang bekerja begitu harmonis di alam..

Momentum kali ini, resapilah setiap kalimat yang terdapat pada Ikrar sumpah pemuda. sudah seyogyanya MAHASISWA FISIOTERAPI juga mampu merefleksikan nilai sumpah pemuda terhadap kemajuan Profesi kita ini. Tentu kita tak ingin jika keberadaan kita seperti tidak ada nya kita. Kita yang memilih ingin menjadi penonton sejarah  atau memiliki peran terhadap sejarah itu sendiri.
Setiap tahun kita melakukan seremonial utk memperingati Hari Sumppah Pemuda yang dilaksanakan hampir serentak seluruh Indonesia. Mungkin banyak dari kita yang merasa bahwa hari ini adalah “hari yang normal”, ada ataupun tidak ada hari kebangsaan tidak mengubah hidupnya. Jangankan yang tidak merasa, yang aksi pun seringkali hanya wacana jalanan yang tidak berkelanjutan, teriak lalu  tenggelam ke dasar bumi, tak berbekas, seperti yang saya lihat hari ini. Ada apa ?




Hidup itu selalu memiliki dinamika dan fluktuasi. Keadaan Nasional dari era kemerdekaan hingga sekarang pun mengalami fluktuasi dengan berbagai gejolak. pola pikir masyarakat yang berkembang sangat pesat karena interkonektivitas dengan dunia yang semakin terajut dalam globalisasi cenderung menjadikan pola pikir individualis dan justru ekslusif. Tetapi penulis yakin bahwa mahasiswa fisioterapi dapat bersaing di era global dengan sikap arif dan bersahaja. Kita tau bahwa AFTA akan dimulai tahun 2015, oleh karena itu kita juga tidak dapat memungkiri bahwa interkonektivitas sangat diperlukan yang harus dibangun dengan baik dari sekarang yang dihiasi oleh kecintaan pada ilmu berlandaskan budi suci, moral dan kesalehan agama. Maka dari itu, IMFI berusaha untuk selalu berperan aktif pada taraf internasional yaitu mengirimkan Delegasi pada Agenda Asia Physical Therapy Student Assoaciation. Di dalam acara itu, menurut penulis sudah tertanam nilai sumpah pemuda seperti delegasi yang kami kirimkan sangat bangga ketika memperkenalkan kebudayaan local Indonesia di hadapan Mahasiswa Fisioterapi se-Asia.

Disadari ataupun tidak, kita sebagai manusia pada umumnya bahkan seorang Mahasiswa sedang digempur dengan pemikiran liberal yang men-dewa-kan “kebebasan individu adalah segalanya” tidak membuat berpikir secara holistik, bahwa semangat yang ingin digencarkan adalah semangat kompetitif (competitive spirit) tetapi malah terjerembap pemikiran masyarakat pada hedonism yang berujung pada pola pikir konsumtif yang (sangat) berlebihan.  Semua dikejar oleh kata yang bernama “hasil”, bukan “proses”, yang terbentuk atas konstruksi masyarakat bersifat pragmatis-instan. Penulis yakin bahwa hidup itu selalu berporoses yang kadangkala hasil tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kemudian mulailah kita menganalisis, mungkin saja jiwa kompetitif kita saat berproses itu kurang menggelora dan kita belum sepenuhnya menyerap nilai sumpah pemuda itu sehingga masih ada nya sikap hedonis pada jiwa. Sebagai mahasiswa Fisioterapi yang mana bidang keilmuan kita terus berkembang maka sikap kompetitif untuk berkontribusi yang terbaij sangat dibutuhkan, Totalitas, Loyalitas dan Integritas.Berbagai alasan dapat kita kemukakan sehingga menyebabkan pola berpikir kritis “terhenti” begitu saja pada tataran akademis. Kadangkala hanya karena beberapa alasan ini membuat kita mundur teratur dari sumbangsih kita terhadap kemajuan Profesi masa depan kita ini yang kita rintis dari sejak menyangdang gelar “Mahasiswa”, salah satu alasannya adalah kurikulum pendidikan yang “mencekik” kreativitas mahasiswa dalam bertindak dan bergerak untuk menjalankan asas kebermanfaatan. Kami sebagai Mahasiswa Fisioterapi terus melakukan inovasi dalam segala perkembangan kami agar keberadaan kami memiliki asas kebermanfaatan, kami bukan saja mencari gelar Sarjana atau Diploma Fisioteapi tetapi dalam jiwa kami selalu tertanam kuat bahwa keberadaan kami sebagai mahasiswa Fisioterapi selalu memberikan manfaat untuk seluruh masyarakat Indonesia khususnya yang sesuai dengan bidang kami. Bukankah sebaik baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya terhadap sesama??

Inovasi, kreatifitas serta aspirasi kami bangun, bina dan satukan melalui wadah organisasi sebagai pelaksanaaspirasi mahasiswa terutama Fisioterapi seperti Badan Ekskutif Mahasiswa Fisioterapi, Himpunan Mahasiswa Fisioterapi, bahkan di tingkat nasional terdapat IKATAN MAHASISWA FISIOTERAPI INDONESIA yang terbagi menjadi 5 regional. Dimanapun organisasi kita sebagai mahasiswa Fisioterapi, Penulis mengharapkan kita bisa saling sinergi dan memiliki integritas demi Fisioterapi Indonesia yang lebih baik.

Terkadang aktivis pun ada yang apatis, Bentuk “apatis”  ini dapat terlihat dari enggannya berpartisipasi dalam kegiatan kesejahteraan mahasiswa (lingkup kolektif kecil) juga masyarakat atau dalam Dunia Fisioterapi itu sendiri (kolektif besar) lebih mementingkan diri maupun kelompoknya demi tujuan yang sangat parsial tanpa begitu banyak manfaat bagi stakeholder, yakni mahasiswa itu sendiri. Terlebih, apatis ini tidak hanya hinggap pada mereka yang menyandang predikat “mahasiswa biasa” , ironisnya pada mereka yang berlabel “organisator”, kalau tidak dibilang “aktivis”. Konteks kata “organisator” atau “aktivis” disini adalah mereka yang menjadi fungsionaris organisasi mahasiswa di ranah eksekutif ataupun legislatif. Seperti yang terlihat, mereka yang termasuk “aktivis apatis” ini adalah mereka yang ,entah, tidak ingin melihat, mendengar berbicara dan bertindak tentang permasalahan masyarakat yang ada di ranah sosial maupun pendidikan, terlebih permasalahan negara yang dianggapnya “tidak penting”. Kalaupun ada , seringkali hanya sekedar wacana formalitas agar eksistensi organisasinya hadir, pun tanpa berbuat sesuatu yang signifikan.  Mereka hanya bergerak jika sesuai dengan kepentingan oligarki yang sudah disepakati sebelumnya “dibelakang”. Dari sinilah kami seluruh Pengurus Ikatan Mahasiswa Fisioterapi ingin mengajak seluruh organisasi Mahasiswa Fisioterapi se-Indonesia utk melihat, mendengar dan bertindak tentang permasalahan kita (Dunia Fisioterapi), kesehatan pada umumnya agar kita bersama-sama mencari solusi terbaik. Kita harus Berjaya di tanah kita sendiri.

Agaknya sudah saatnya, jika kita tidak terlalu terpaku lagi pada acara-acara seremonial dalam memperingati sumpah pemuda, tetapi ada sebuah gerakan yang atau pemikiran ulang tentang bagaimana jiwa Semangat Sumpah Pemuda itu bukan hanya sebatas pada pengetahuan saja, tetapi menjiwai semangat perilaku kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang sejak lahirnya sudah terlanjur sebagai Negara yang heterogen, baik agama, suku, dan ekonomi dan pendidikan
HIDUP MAHASISWA ! HIDUP FISIOTERAPI !
Kami dari Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia mengajak seluruh Mahasiswa Fisioterapi Indonesia untuk saling sinergi, totalitas serta integritas demi Fisioterapi Indonesia terus bersinar dan jaya di Tanah Air Tercinta.

Salam Redaksi

Pantau terus segala kegiatan kami, Let’s Follow @IMFIPUSAT J


Kami juga menerima segala kritikan dan masukan untuk kemajuan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia khususnya IMFI.
|
Mention ke @IMFIPUSAT
Kirim melalui email imfinasional@gmail.com
è WA/LINE/SMS ke 087816761930






Tidak ada komentar:

Posting Komentar