Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia

Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia

Rabu, 25 November 2015

MUSYAWARAH WILAYAH KE-VI IKATAN MAHASISWA FISIOTERAPI INDONESIA REGIONAL IV 2014–2015


Musyawarah Wilayah (Muswil) adalah musyawarah anggota antar mahasiswa fisioterapi yang memegang kekuasaan tertinggi di regional. Kegiatan muswil berguna untuk memilih dan mengangkat calon Gubernur, berkaitan dengan mekanisme kerja regional dan mengevaluasi kinerja kepengurusan regional. IMFI Regional IV terdiri dari beberapa Institusi Fisioterapi yang berada di wilayah Jawa Timur dan Bali diantaranya Universitas Udayana, Universitas Dhyana Pura, Universitas Airlangga, Universitas Muhammadiyah Malang, Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata, Akademi Kesehatan Arga Husada.


Musyawarah Wilayah regional IV diadakan pada tanggal 12-14 November 2015 yang bertempat di Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatannya berisi tentang pemaparan LPJ Gubernur, pemilihan calon kepengurusan baru di regional IV dan menentukan proker kerjanya.




Struktur Kepengurusan 2015 - 2016

GUBERNUR
KEN SIWI

UNAIR
WAKIL GUBERNUR
CAMARUL ARIFIN

UMM
SEKRETARIS          
NI LUH EKA KRISNA DEWI

UNDHIRA
BENDAHARA         
LINDA ATHIKA NURFAHMI A.

UNAIR
DEPT. PRODANUS
NI MADE SINTA DWI CAHYANI
NI KETUT DAMAYANTI
EVI AYU JUNIARTI
MEILY DEWI ARIMBI
TRIA LASINIA
EKKI AGUS SUDAWAN
WISNU SATRIO RAHARJO

UNDHIRA
UNDHIRA
UMM
UMM
UNAIR
UNAIR
UNAIR

DEPT. INTERNAL
JAMILATUS SHOLEHA
NI LUH PUTU CICILIA ANDINI Y.P.
NI LUH DESTARINI
MIFTAH HAPSATIO
MADE PUTRI LARASATI
REIZA KARTIKA UTAMI
MARTINA PUTRI PURNAMASARI

IIK
UNDHIRA
UNDHIRA
UMM
UNAIR
UNAIR
UNAIR

DEPT. EKSTERNAL
ZAIN SYAMSU GOJALI
NI MADE MANIK GITA SANJIWANI
NOVI PURMANI
DWI SEPTA ANDANI
RIZKY FEBRIYANTI
IMROATUL MUFIDAH
TAUAMANI YAMUNA SYAMS

UMM
UNDHIRA
UNDHIRA
UNDHIRA
UMM
UNAIR
UNAIR
DEPT. KADERISASI DAN KEILMUAN
RIZWAR ATIQAH SYAFITRI
MADE EDDY KHRISNA D
DEWA AYU KADEK ARI PURNAMA D
ATIKA SURI
RIZKI PRIYO JATMIKO
M. ROYYAN ALMADINI
ARDHINATA CAHYA RAMADHAN
EKO CAHYONO MIFTAHUL HUDA
UMM
UNDHIRA
UDAYANA
UMM
IIK
UNAIR
UNAIR
ARGA

DEPT. SOSIAL DAN KEMASYARAKATAN
PURI DWI AGUSTIN
PANDE GEDE UMBARA
FARIDA LUTHFIANA SARI
ADIN ARDIANU PRAMUDITA
SATRIO WIBOWO
LINTANG PARWIDA R
DIMAS AJI PRAYITNO
NIKAVIA SABILLA FAUZIYAH
UNAIR
UNDHIRA
UMM
UMM
UNAIR
UNAIR
UNAIR
ARGA


Selamat atas terpilihnya struktur kepengurusan baru di regional IV, semoga dapat mengemban amanahnya dan memberikan yang terbaik untuk regional IV.

Rabu, 18 November 2015

Musyawarah Nasional VII Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia


Sebanyak 33 orang peserta yang bersal dari 13 Intitusi Fisioterapi se-Indonesia yang mengikuti Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia (IMFI) di Program Vokasi Universitas Indonesia  Depok Jawa Barat dan Rapat Kerja nasional (Rakernas) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kegiatan yang dilaksanakan pada 6 - 8 November 2015  ini dipusatkan di Gedung A Program Vokiasi UI.
(Ini Sebagian Delegasi dari Berbagai Institusi Fisioterapi se-Indonesia)
Menurut Anggaran Rumah Tangga Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia Periode 2015-2016, kegiatan munas dan rakernas ini bertujuan untuk:
1. Menetapkan AD/ART.
2. Menetapkan GBHO.
3. Menetapkan rekomendasi lain yang berkaitan denga IMFI pada khususnya dan
Fisioterapi pada umumnya.
4. Memilih, mengangkat, dan memberhentikan Presiden IMFI dan Majelis Pertimbangan
Agung.
5. Mengevaluasi dan mengesakan LPJ Presiden IMFI.
6. Menetapkan penyelenggaraan Munas berikutnya.

Kegiatan musyawarah nasional dan rapat kerja nasional ini sudah ke VII kalinya dilaksanakan, sebelum-sebelumnya sudah diadakan di berbagai kota. Selanjutnya, sebagai mahasiswa aktif kita harus mempersiapkan diri dalam menyusun rencana atau program – program kerjasama dengan para professional agar terjalin kerjasama yang baik sebagai upaya peningkatan eksistensi serta bisa mencurahkan segala keinginan dan mewujudkan satu program kekhususan. Diharapkan setelah kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Program Vokasi Universitas Indonesia, IMFI ini kedepannya akan lebih baik sehingga menumbuhkan kegiatan yang efisien dan positif.
(Presidium dan Peserta Sedang Membahas Tata Tertib dan Agenda MUBES)
(Presiden IMFI Periode 2014-2015 Sedang Melaporkan Pertanggung Jawaban Selama Satu Periode)
(Suasana MUBES IMFI pada Saat Pembahasan AD/ART & GBHO)

(Pengurus IMFI Pusat Sedang Melakukan RAKERNAS di TMII)

Berdasarkan tujuan diadakannya MUNAS ini yaitu melanjutkan roda estafet kepengurusan organisasi. salah satu cara melanjutkannya yaitu melakukan pemilihan pengurus IMFI periode 2015-2016. Hasil dari pemilihan dan keputusan MUNAS ini, yang terpilih menjadi Pengurus Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia antaralain Yusuf Kurniawan Cesar sebagai presiden dan Alfian Pradana P  sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Agung


(Presiden dan Wakil Presiden IMFI Pusat)
Agar tercapainya tujuan dari IMFI tentunya presiden memiliki visi dan misi yaitu:
Visi: Menjadikan mahasiswa fisioterapi indonesia yang berwawasan luas dan bermanfaat bagi masyarakat indonesia
Misi:
1.      Menjaga loyalitas, koordinasi, dan komunikasi
2.      Menjalin dan mempererat hubungan, baik di internal maupun eksternal IMFI

Senin, 07 September 2015

Kongres APTSA Ke-6


Ada satu hal yang kiranya wajib diketahui  oleh seluruh mahasiswa Fisioterapi Indonesia. What is it ? Yap, APTSA.  Melalui APTSA  merupakan langkah awal kita sebagai mahasiswa untuk melihat dunia Fisioterapi yang lebih luas dari berbagai negara di ASIA.  APTSA juga merupakan wadah mahasiswa Fisioterapi se-Asia untuk memberikan kontribusinya untuk bersama-sama  menciptakan masa depan Fisioterapi yang lebih baik. Let’s join us and know more about PT around the world !

What is APTSA ???
The Asia Physical Therapy  Student Association (APTSA) is an organization formed by Asian countries to provide a venue for collaborative activities amony physiotherapy students of the Asian Region.
Mission ?
1.      To promote regional cooperation and interaction among physiotherapy students in Asia
2.      To Expand the horizon of physiotherapy students and to improve the environment of physiotherapy education
3.      To enhance unique regional characteristics and internatonal conmpetitiveness for physiotherapy students in Asia.
Salah satu cara APTSA untuk mewujudkan misi tersebut dengan mengadakan kongres tahunan mahasiswa Fisioterapi Asia sebagai tempat bertemunya para mahasiswa dari negara-negara anggota untuk belajar, berbagi pengalaman, mempelajari program Fisioterapi setiap negara dan sekaligus menjadi tempat untuk negara-negara anggota membuat program kolaborasi. Misalnya mahasiswa Fisioterapi Hong Kong yang tergabung dalam Hong Kong Physiotherapy Concern melakukan student exchange saat liburan ke Jepang (JPTSA) dan Taiwan. Selain kegiatan Kongres, terdapat juga program Japan Study Tour yang dilaksanakan setiap tahun. Tetapi untuk tulisan kali ini, kita akan lebih membahas mengenai kongres APTSA.  Wait, for the firs time, next year, Japan and France will collaborate to hold the 1st Rehabilitation Congress in France. For further information, wait till December 2015.

Before we are sharing more and more, Let’s see the history about APTSA.
1.      1st APTSA Congress (2010) was held in Taiwan  and it has provided participants with an overview of the differences in the physiotherapy curriculum across member countries, both at the baccalaureate and graduate levels.
2.      2nd Congress was held in Japan in 2011 and investigated the variations in the implementation of clinical internship programmes across member countries
3.      3rd Congress was held in the Philippines in 2012 and the learning of Physiotherapy in the Asian Region presented.
4.      4th APTSA Congress in 2013 was held in Taiwan, the topic “ The Impact and Combination between Physical Therapy and Traditional Medicine”
Pada kongres ke-4, untuk pertama kalinya Indonesia berpartisipasi aktif di APTSA dengan mengirimkan 1 delegasi.
5.      5th Congress was held in Bangkok in 2014 on the theme of successful aging in clinical setting and the community.
Indonesia tidak mengirimkan delegasi pada kongres ke-5 dikarenakan beberapa hal.
6.      6th Congress was held in Hong Kong this year (7-9 Agustus 2015) on the main theme “The Emerging Importance of Physiotherapy in Sports- A Global Phenomenon”
Let me to share about 6th APTSA Congress !
12 delegasi Indonesia dari beberapa kampus di Indonesia (UI, Esa Unggul, Unair dan UNHAS) telah mengikuti kongres APTSA yang ke-6 di Hong Kong Polytechnic University, Hong Kong. Semua delegasi dari Indonesia yang membawa nama mahasiswa Fisioterapi Indonesia dalam acara tersebut dengan biaya sendiri. Semoga perjuangan yang tidak sia-sia. Penginapan kita selama mengikuti kongres sudah disediakan oleh panitia (Hong Kong Physiotherapy Concern), kita menginap di Hong Kong Residence Hall yang merupakan fasilitas dari Hong Kong PolyU berupa asrama.
Day 1
City Tour
Dalam kegiatan ini, Seluruh peserta kongres diajak untuk melihat indahnya setiap sudut kota dari sebuah negara yang bisa disebut sangat kecil tetapi merupakan negara maju, Hong Kong. Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Victoria Peak.  sesuai dengan namanya, Victoria Peak merupakan puncak tertinggi dari Hong Kong yang berada di atas permukaan laut sekitar 525 m di Hong Kong Island. Dari Victoria Peak ini kita bisa melihat Hong Kong di segala penjuru dengan keindahannya yang begitu menawan terutama pencakar-pencakar langitnya. What’s  the next destination ?
Repulse Bay, konon katanya pantai ini adalah pantai terindah di Hong Kong. Di sekitar tempat ini juga tersedia hunian kelas atas di Hong Kong serta di dalam area pantai juga terdapat tempat ibadah yaitu KwunYam Temple dengan patung Kwun Yum dan Tin Hau yang menghadap ke pantai. Perjalanan kita tidak berhenti sampai sini, selanjutnya bus kita segera meluncur ke Stanley market untuk membeli oleh-oleh atau pun lainnya.




Destinasi terakhir kita adalah Avenue of Star. Tempat ini merupakan kawasan tepi pelabuhan dan jalur jalan sepanjang 440 meter di tepi victoria harbor. Ketika menginjakkan kaki di sini, kita disuguhkan kembali oleh keindahan Hong Kong dipadukan dengan angina pantai yang romantic dan seolah berada dalam reuni bersama sejumlah insan perfilman Hong Kong, sebut saja salah satunya  Jackie Chan. Karena di sepanjang jalan avenue of star terda[at handprint mereka sebagai wujud penghargaan. Selain itu, terdapat banyak patung dan tugu-tugu yang berkaitan dengan industry perfilman sekaligus yang menunjukkan bahwa perfilman Hong Kong bisa disebut “Hollywood Timur”. Finally, we back to resident  and enjoy the free time. Beberapa negara memanfaatkan waktu free time ini untuk latihan Cultural Night maupun presentasi tiap negara, termasuk Indonesia.
Day 2
Bertempat di Lecture Hall (ST111), Hong Kong Polytechnic University, Kongres ke-6 APTSA dibuka oleh Prof. Marco Pang (Vice President of The Hong Kong Physiotherapy Association), kemudian sambutan dari President APTSA dan President HKPC.
Materi seminar pertama yang dibawakan oleh Prof. Ella Yeung dengan tema “ An Integrated Approach to Athlete Care”.  Selesai materi pertama, peserta diarahkan menuju kantin kampus untuk  makan siang bersama yang telah dibagi menjadi beberapa grup terdiri dari negara berbeda. Makan siang yang asyik dan kekeluargaan karena bukan saja menyantap makan siang tetapi juga ‘melahap’ informasi dari berbagai negara dari perbincangan hangat yang terjalin antar peserta.
Setelah lunch, kita diajak untuk explore Hong Kong Polytechnic University. Peserta kembali dibagi menjadi beberapa grup yang berbeda dari grup makan siang. Jelas ada sisi positifnya, dapat kenalan baru dan info baru lagi. Setelah dibagi menjadi beberapa grup, slanjutnya kita akan mengikuti sesi diskusi ke kelas seperti kuliah. Terdapat 4 kelas ; 2 kelas membahas Case study discussion about sport injuries oleh Dr. Arnold Wong, Mr. Raymond Cheung dan Mr.Otto Law. Sedangkan 2 kelas lainnya membahas sekaligus mempraktekkan ‘Soft Tissue Treatment Techniques in Sports Rehabilitation’ oleh Mr. Christopher Lo.
Dalam setiap kelas pun, kita dibagi menjadi kelompok lebih kecil lagi yang terdiri dari 5 orang. Kita diberikan oleh beberapa kasus dan pertanyaan yang harus kita diskusikan kemudian hasilnya dipresentasikan di depan kelas. Well, apa yang kita pelajari untuk tingkat sarjana di Indonesia tidak berbeda jauh dengan apa yang mereka (negara-negara di ASEAN not ASIAN) pelajari. Walaupun perbedaan itu jelas ada.  Salah satu kekurangan kita terletak di ‘academ talk’ in university. I hope someday, academy talk in Indonesia is English.
back to lecture hall. Semua peserta excited dengan sesi terakhir ini, Tai Chi Workshop oleh Dr. William Tsang. As we all know, Tai Chi memiliki banyak manfaat terutama untuk lansia. Feel happy so much when we can practice sitting tai chi.

After that, back to residence for dinner and prepation. Prepare for what ? yeah, Cultural Night. Indonesia menampilkan tari poco-poco dengan kostum sesuai daerah masing-masing. Pada akhir penampilan, kita ‘menarik’ perwakilan tiap negara untuk poco-poco bersama kita di atas panggung.
Unforgettable night ! I believe that the other participant have same feel with me,don’t  want this night to end. We want always together. Unfortunately, we have to face the reality.
Day 3
Bisa dikatakan hari ke-3 ini merupakan “presentation countries day” dengan 2 topik ; “The Emerging Importance of Physiotherapy in Sports- The Local Implications” dan “palliative Care”. Setiap negara mempersentasikan kondisi ft di negara mereka sesuai tema termasuk Indonesia.
Kemudian ada juga diskusi mengenai direct access oleh Mrs. Eleanor Chan. Pada hari itu, peserta kembali dibagi menjadi beberapa grup kecil untuk berdiskusi mengenai permasalahan ft tiap negara dan mencoba bersama-sama mencari solusinya. Awesome !
Sekitar pukul 6 sore waktu Hong Kong, kongres APTSA ke-6 resmi selesai yang diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan sertifikat serta saling bertukar cinderamata antar negara. But, we must stay here to attend annual meeting of APTSA. Indonesia memiliki 3 representative untuk APTSA dan first time, Indonesia menjadi bagian dari Internal Affairs Department. Also first time, Indonesia menjadi tuan rumah Kongres APTSA ke-7 tahun 2016.
FYI, ada satu negara yang mengajak IMFI untuk membuat program kolaborasi. Siapa dan apa ? stay tune for further information ! Prepare your self who want to be organizing committee of 7th APTSA Congress. ^_^
Thank you so much for all participant and the Hong Kong Physiotherapy Concern. Different countries and different culture,but we bring one mission “developing the leadership potential of youth through experiential learning, update our knowledge and share about physiotherapy condition in our country for bright future. See you next year in Indonesia ^^



Jumat, 04 September 2015

Physiotherapy Essay Competition 2015

 Halloo.. Mahasiswa Fisioterapi Indonesia.
🔊🔊Speak Your Voice ! Share Your Idea !

Celebrate our day ! World Physical Therapy day !
Yuk asah ketajaman berfikir dan suarakan gagasanmu untuk Fisioterapi Indonesia lebih maju. Caranya ?

Tunjukkan partisipasimu dalam event kita.
"PHYSIOTHERAPY ESSAY COMPETITION"
📝Tema
1. Fisioterapi Indonesia Menghadapi Pasar Bebas ASEAN
2. Strategi Fisioterapi Indonesia untuk mencapai Tujuan ke-3 dalam Menyongsong Sustainable Development Goals
3. Refleksi Peranan Fisioterapi pada Kancah Internasional

TANGGAL PENTING KOMPETISI :
Durasi pendaftaran sekaligus pengiriman naskah : 5 Sept-19 Okt 2015
Pengumuman : 25 Okt 2015
Naskah dikirim ke imfinasional@gmail.com sertakan data diri lengkap.

FREE!!

🎁Reward :
Juara 1 : Sertifikat + Rp 350.000 + Merchandise IMFI
Juara 2 : Sertifikat + Rp 300.000 + Merchandise IMFI
Juara 3 : Sertifikat + Rp 250.000 + Merchandise IMFI

Informasi selanjutnya bisa menghubungi contact person
087816761930 -Mina Rizqina

ketentuan kompetisi essay
1. Peserta adalah mahasiswa fisioterapi aktif (D3,D4,S1, danS2)

2. peserta harus melampirkan data diri lengkap di halaman terakhir. Contoh : isi essay ada  
5 halaman, halaman ke-6 berisi data diri lengkap.

3. Format Essay : Ukuran kertas A4, Spasi 1,5 , Font Times New Roman, Size 12, maksimal 5 halaman dan minimal 2 halaman.

4. 1 orang boleh mengirimakan lebih dari 1 essay.

5. Peserta berhak memilih 1 tema diantara 3 tema yang ada.




#FulfillingPotential
Speak Your Voice ! Share Your Idea !

Sabtu, 21 Februari 2015

Bergerak Atau Tergantikan ?



Bismillah..

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”
(“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat anda gunakan untuk mengubah dunia.”) – Nelson Mandela

#BergerakAtauTergantikan. siapkah kita tergantikan oleh fisioterapi-fisioterapi asing ataupun profesi lain yang mencoba memasuki “gray area” kita atau pun menambah luas “gray area” tersebut jika kita tidak bergerak ?? entah itu bergerak melanjutkan perjalanan pendidikan kita sejauh-jauhnya bahkan hingga ke negeri seberang atau berjuang agar perjalanan itu dapat kita tempuh di negeri sendiri.

Sudah bukan rahasia umum, jika pendidikan fisioterapi di negara-negara maju memiliki level pendidikan fisioterapi serta kompetensi yang tinggi. Ya jelas, standar pendidikan mereka minimal Sarjana yang terintegrasi dengan Profesi. Bagaimana dengan kondisi pendidikan Fisioterapi di Indonesia ?? sungguh sangat ironi, pendidikan fisioterapi indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain, selama hampir lebih dari 30 tahun Pendidikan fisioterapi di Indonesia masih banyak yang merasa cukup dengan pendidikan diploma III untuk bersaing dengan 'mereka'.

 ketika berbicara tentang perbandingan pendidikan fisioterapi di negara maju dan negara berkembang. Miris, ketika mendengar “celetukan” mahasiswa mengatakan “wajar, Indonesia kan masih negara berkembang bukan negara maju”. Negara Fiji yang ibaratnya baru berdiri saja memiliki standar minimal Sarjana untuk Pendidikan Fisioterapi.  Lantas apakah kita terus-terusan mau jadi negara berkembang yang diam di tempat tanpa Bergerak atau menunggu Tergantikan ketika batas-batas perdagangan bebas termasuk jasa fisioterapi itu sudah tidak ada batas lagi dan sebebas-bebasnya dilakukan ?? ya, kita mengerti hal ini sudah terlalu lama diperjuangkan, tetapi memang pada kenyataannya tidak didukung oleh beberapa pihak ( sebut saja dengan alasan birokrasi pemerintah yang sulit).

dihadapkan dengan data-data yang ada, Menurut data yang kami miliki, Pendidikan Fisioterapi yang saat ini terselenggara di Indonesia antara lain :
1.      D3 Sebanyak 33 Institusi
2.      D4 Sebanyak 4 Institusi
3.      S1 sebanyak 9 Institusi

Wujud implementasi Permenkes nomor 80 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan pekerjaan dan praktik fisioterapi adalah dengan dikembangkannya level pendidikan fisioterapi yaitu nantinya hanya ada lulusan D3 (Amd), Lulusan profesi ( Fisio), dan lulusan Spesialis (Sp), hal itu juga dilakukan agar menghindari adanya kendala di pelayan dalam membedakan kewenangan antara lulusan D3 dan D4, serta jenjang S1 yang belum mendapatkan kewenangan profesinya sebelum menyelesaikan pendidikan profesi.

tiba-tiba, Dunia Pendidikan Perguruan Tinggi Indonesia “dihadiahi” oleh terbitnya  RPM Permendikbud 154 tahun 2014. Terlalu banyak “accident” dalam RPM tersebut, accident itu pun turut dirasakan fisioterapi dalam perkembangan pendidikannya.

Dalam lampiran draft nomenklatur tersebut, secara singkat sudah terlihat “accident” yang paling dasar yaitu Pada lampiran 2, Program Studi Profesi fisioterapi tertulis D4-Profesi. Kemana S1 nya ?? jika kita berkaca kepada profesi tetangga seperti bidan dan perawat yang sama-sama memiliki jenjang D3,D4,S1 dan Pendidikan Profesi, nomenklatur pendidikan profesi mereka tertulis D4/S1-profesi.bukankah disini terlihat adanya inkosistensi ??

Memang hal tersebut tidak mengubah atau mengancam keadaan fisioterapi sekarang, tetapi jika ini tidak kita awasi dan ingatkan, bisa saja mengancam atau bahkan menghambat pendidikan fisioterapi indonesia.
Melihat keadaan tersebut, kami dari Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia berinisiatif mempertanyakan kondisi tersebut melalui Surat Resmi dari IMFI ke Direktorat Pembelajaran dan kemahasiswaan Ditjen Dikti, tindaklanjut dari surat itu terlaksananya audiensi antara perwakilan IMFI dengan Belmawa Dikti yang diwakili oleh Bu Retno ( 10 Februari 2015) dan Bu Rita (12 Februari 2015), awalnya kita hampir saja bisa berbicara langsung dengan Ibu Illah Sailah selaku direktur Belmawa Dikti, tetapi saat kami ingin mengatur jadwal dengan Bu Illah Sailah melalui sekretarisnya, ternyata jadwal beliau sudah padat pada hari itu, akhirnya kami disarankan bertemu dengan Bu Rita yang juga cukup mengerti mengenai hal ini. 

Sesaat setelah itu, kami melakukan audiensi singkat dengan Bu Rita selaku perwakilan dari Bu Illah Sailah, dari pertemuan tersebut dengan mengucapkan syukur dihasilkan beberapa point :

  • Nomenklatur Pendidikan Profesi Fisioterapi yang tertulis D4- Profesi setelah masa uji publik hingga tanggal 28 februari 2015, kemungkinan akan diubah menjadi D4/S1-Profesi

  • Adanya pendidikan Profesi Fisioterapi menandakan bahwa nantinya juga akan dikembangkan Pendidikan Spesialis sesuai dengan usulan IFI dan APTIFI
  • Lulusan Program Pendidikan Profesi Fisioterapi termasuk dalam level 7 KKNI
  •  Dikti melalui BELMAWA DIKTI akan terus melakukan kajian sesuai dengan usulan berbagai pihak termasuk organisasi Profesi, Asosiasi Pendidikan Tinggi serta Kementerian terkait.
  • Terdapat kemungkinan bahwa nomenklatur Pendidikan Profesi pada Fisioterapi, Bidan dan perawat akan sama seperti dokter yaitu Nomenklatur Profesi terpisah dari nomenklatur D3,D4, dan S1 kemudian dibawahnya Program Profesi. 
Sesuai dengan janji dari Perwakilan Dr.Illah Sailah kepada IMFI ketika melakukan audiensi mengenail hal tersebut, mereka akan melakukan perubahan dalam nomenklatur tersebut khususnya pada bagian Pendidikan Fisioterapi.  mari selalu kita kawal dan buktikan bersama setelah selesai uji publik hingga tanggal 28 februari 2015. Apapun hasilnya nanti sangat mempengaruhi langkah dan pergerakan kami selanjutnya. 

mohon maaf jika ada kesalahan..

untuk sementara, dokumentasinya belum bisa dipublikasikan karena hape admin sedang bermasalah.. :D

Jumat, 06 Februari 2015

Mereka Telah Datang, Kita Mau Kemana ??


"We are not a Medical Doctor, but we can recover because we are Physiotherapy/Physical Therapy"
Yeah.. kita memang bukan dokter medis tetapi kita juga bisa menyembuhkan bahkan mencegah, meningkatkan serta memelihara. Siapa kita ? FISIOTERAPI. kalau kita melihat di luar jendela rumah (Indonesia) kita, sebut saja di luar negeri sana, untuk menjadi seorang fisioterapi maka kita harus menempuh pendidikan DPT (Sarjana dan Profesi) yang memakan waktu sekitar 7 tahun. We O We, bukan ? sesuailah dengan yang didapat..



apa yang melintas di benak kalian ketika mendengar kata "fisioterapi" ?? jika kalian berpikir fisioterapi itu sama seperti perawat atau bentuk terapi-terapi lainnya, maka mohon maaf jawaban kalian tidak tepat. :)


kita adalah sebuah Profesi yang memiliki otonomi secara mandiri untuk memberikan pelayanan kesehatan mulai dari tahap preventif hingga rehabilitatif. sebagai contoh sederhana, ketika seseorang ingin kembali pulih post-operasi, maka fisioterapi dapat berperan disini untuk bagian gerak dan fungsi tubuhnya. anda tau Lumpuh Otak (Cerebral Palsy) atau gangguan perkembangan anak ? disinilah juga kami hadir :) dan banyak lainnya lagi..

okee.. pada edisi kali ini, saya tidak begitu panjang lebar menjelaskan apa itu fisioterapi. karena ada sebuah kondisi yang sangat meresahkan saya sebagai mahasiswi fisioterapi.bagaimana tidak begitu mengganggu pikiran saya, jika kemarin saya mendengar kabar dari dosen saya yang telah mempunyai jam terbang tinggi, bahwa ketika beliau berkunjung ke RS Si*Lo*M di Jakarta bagian Barat, kemudian ke klinik-klinik yang ibarat katanya nih nyempil di gedung-gedung/menara pencakar langit Jakarta, serta jalan-jalan ke kawasan elite Jakarta, Apa yang beliau lihat dan dapat ? Yap, rata-rata Fisioterapi berasal dari negara antah berantah ( alias Fisioterapi Asing), kemana pribumi ? yaa walaupun sekarang masih ada pribumi nya. tetapi mari kita saksikan sendiri saat AFTA diberlakukan di semua sektor termasuk Fisioterapi jika kita tidak sama-sama berjuang meningkatkan kualitas.. 
hayuk lah kalau gak percaya, yuk mari survey langsung bareng saya ke sana. 

Bercermin dengan wajah fisioterapi Indonesia sekarang, menurut dosen saya (lagi) ada berbagai pilihan yang bisa kita ambil ; Menjadi Penonton saat mereka datang dan secara halus mengambil "kue" yang sebenarnya juga masih kita rebutkan di internalMenjadi Raja di Negeri Sendiri, Menjadi tamu di negeri sendiri ? atau tidak memilih apa pun itu juga pilihan yang menunjukkan bahwa tidak mempunyai pendirian.  


jika pilihan kita adalah menjadi Raja/Ratu di Negeri Sendiri, maka kita semua dari berbagai kalangan harus sama-sama berjuang hingga akhir, hingga generasi terakhir fisioterapi di dunia ini sebelum kiamat pun harus selalu berjuang. bedanya untuk generasi sekarang memperjuangkan urgensi Pendidikan Profesi serta Spesialis.. ahh sepertinya yang paling urgen adalah Pendidikan Profesi.

mengapa hal ini begitu penting ? ya pendidikan profesi sangat penting untuk meningkatkan kompetensi kita di kancah nasional maupun internasional. sebelumnya, saya sangat mengapresiasi setinggi-tinggi untuk seluruh Orang tua fisioterapi untuk berjuang di garda depan, dalam hal ini IFI beserta APTIFI. ketika kompetensi yang terbaik serta skill yang mumpuni sudah kita miliki, maka kontribusi kepada peningkatan kesehatan masyarakat pun akan semakin berkembang dan maju, maka masyarkat juga akan semakin yakin untuk membuktika jargonnya " 100% Indonesia" dan tidak melirik asing. sekali lagi, hal itu terjadi jika standar kompetensi kita sudah setara dengan mereka dimulai dengan semua Fisioterapi di Indonesia minimal Pendidikan Profesi Fisioterapi.


mari kita berkelana melihat perkembangan di luar sana, seperti Jerman, Jepang, Thailand, Amerika, Mesir, dan masih banyak lagi negara- negara ynga memiliki standar pendidikan fisioterapi lebih tinggi dari kita yaitu S1 yang terintegrasi dengan Pendidikan Profesi. tidak kah kita iri dan mengambil langkah untuk berjuang bersama ?? :)  melihat kenyataan sekarang bukan berarti terus-terusan seperti ini, tidak bisa dipungkiri berdasarkan analisis dari dosen saya, Tingkat pendidikan dan Level kompetensi yang dimiliki indonesia dalam menghadapi masyarakat Ekonomi Asean ini sangatlah rendah dibanding negara lain. masih ada waktu untuk merubah segalanya :) tentu dengan do'a dan usaha.

hingga detik ini kalimat ini ditulis, saya pribadi tidak bisa membayangkan bagaimana fisioterapi indonesia sejengkal demi sejengkal mulai tersisih dari pentas fisioterapi di negeri sendiri jika tidak ada kesadaran hal ini untuk meningkatkan segala kemampuan dan tingkat pendidikan serta semuanya membantu mendorong akselerasi pendirian Pendidikan Profesi ini.


saya sudah begitu sering bertukar pendapat dengan dosen saya yang sekaligus beliau juga pengurus PP IFI, beliau semua teruus berjuang hilir mudik tak kenal lelah dan waktu menanyakan, meminta kepastian, mendesak kepada 'pemegang kekuasaan' bidang ini di Indonesia, tetapi mungkin Allah ingin menambah pahala beliau-beliau atas kesabarannya menunggu proses yang begitu panjang ini. Barakallah fiikum. alhamdulillah, terlihat titik terangnya, Lampiran Nomenklatur terbaru Permendikbud 154 tahun 2014 sudah memberi lampu hijau Pendidikan Profesi. eits.. ternyata eh ternayata ada masalah baru lagi dalam nomenklatur tersebut yang perlu dikritisi. untuk hal ini, tunggu edisi tulisan selanjutnya.. :D

jiwa mahasiswa kami yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia (IMFI) pun tergerak untuk bersuara, kami mencoba "memberi surat cinta" dari mahasiswa ke kemenristek serta Belmawa yang mengeluarkan nomenklatur tersebut yang semoga saja surat itu bisa mendorong akselerasinya pemberian izin Pendirian Pendidikan Profesi ini untuk masing masing instansi serta harus adanya revisi ulang terhadap Surat Rumpun ilmu pengetahuan itu dalam permendikbud 154 tahun 2014.

Urgensi Pendidikan Profesi Fisioterapi ini pun untuk menjawab tantangan masa depan sesuai dengan PERMENKES No.80 tahun 2013. silahkan dilihat dan dibaca lagi.. 

terlepas dari itu semua, saya dan yang lainnya sebagai mahasiswa berjuang sesuai kapasitas kami belajar belajar dan belajar sebaik-baiknya untuk terus meningkatkan kemampuan. kita sebagai mahasiswa janganlah asing untuk membaca jurnal-jurnal internasional, jika perlu handbook kita pun internasional dan pada akhirnya level serta kompetensi kita pun internasional. :)

ohiyaa.. sekedar info, pendidikan fisioterapi yang hingga detik ini ada di Indonesia, sebagai berikut :
D3 Sebanyak 33 Institusi
D4 sebanyak 4 Institusi
S1 Sebanyak 9 Institusi
dan saya adl salah satu mahasiswi  Fisioterapi di Jakarta bagian Barat. silahkan menebak. whehe.. 

semua akan terwujud dengan adanya do'a dan usaha yang seimbang serta tawakkal. :)
Hidup Mahasiswa ! Hidup Fisioterapi !
wassalamu'alaikum. semoga Allah selalu memberi keselamatan dan kesejahteraan untuk seluruh Fisioterapis dan mahasiswa/i  fisioterapi dimanapun berada.
Selamat menjadi Raja dan Ratu di Negeri sendiri :) semangat.